AS Sebut Permintaan Red Notice Iran untuk Trump sebagai Propaganda

Red Notice
Foto; Aljazeera

Berita Baru, Internasional – Pada Senin (29/6), Jaksa Teheran Ali Alqasimehr mengeluarkan surat perintah penangkapan dan meminta Interpol membantu menahan Presiden Trump dan puluhan tersangka lainnya atas serangan pesawat tak berawak yang menewaskan jenderal Soelaimani di Baghdad.

Alqasimehr mengatakan bahwa Presiden Trump bersama dengan 30-an tersangka lainnya didakwa atas ‘tuduhan pembunuhan dan terorisme’.

Permintaan Red Notice

Tidak hanya itu, Alqasimehr juga mengatakan bahwa Teheran telah meminta Interpol untuk mengeluarkan Red Notice yang ditunjukkan pada Presiden Trump dan tersangka lainnya.

Red Notice merupakan peringatan tertinggi yang dikeluarkan oleh Interpol yang meminta agar mencari lokasi dan penangkapan individu yang disebutkan dalam daftar.

Di bawah Red Notice, otoritas setempat melakukan penangkapan atas nama negara yang memintanya. Peringatan itu tidak dapat memaksa negara untuk menangkap atau mengekstradisi tersangka, tetapi peringatan itu dapat meminta pemimpin suatu negara untuk menjaga dan membatasi pergerakan orang yang ada dalam daftar.

Setelah menerima permintaan, Interpol akan bertemu dengan komite dan membahas apakah akan membagikan informasi atau tidak dengan negara-negara anggotanya.

Berita Terkait :  Membocorkan Keberadaan Soelaimani, Mata-mata AS di Iran Dihukum Mati

Interpol tidak memiliki persyaratan untuk membuat peringatan apa pun menjadi publik, meskipun beberapa peringatan dipublikasikan di situs web Interpol.

Tanggapan Interpol dan AS

Namun Interpol tidak segera menanggapi dan berkomentar terkait surat permintaan penangakapan tersebut.

Bahkan tampaknya Interpol akan menangguhkan permintaan Red Notice tersebut karena Interpol tidak akan melakukan intervensi atau kegiatan apa pun yang bersifat politis.

Sementara itu, utusan AS untuk Iran Brian Hook menyebut tindakan Alqasimehr itu sebagai ‘aksi propaganda.’

“Penilaian kami adalah bahwa Interpol tidak melakukan intervensi dan mengeluarkan Red Notice yang didasarkan pada sifat politik,” tegas Hook pada konferensi pers di Arab Saudi, dilansir Aljazeera.

“Ini bersifat politik. Ini tidak ada hubungannya dengan keamanan nasional, perdamaian internasional atau menjaga stabilitas … Ini adalah aksi propaganda yang tidak seorang pun akan menganggapi dengan serius,’ jelas Hook.

Kematian Soleimani

Jenderal Soleimani meninggal dalam serangan pesawat tak berawak AS di Irak pada 3 Januari. Waktu itu, Jenderal Soleimani sedang dalam perjalanan untuk memperbaiki hubungan Iran dan Arab Saudi.

Berita Terkait :  Intel Irak: Daesh yang Serang AS Bukan Jenderal Soleimani

Kematian Jenderal Soleimani segera direspon cepat oleh Iran dengan meluncurkan serangan rudal di dua pangkalan AS di Irak. Serangan itu mengakibatkan ratusan prajurit AS mengalami cedera otak traumatis.

Dilansir dari Sputnik, pada akhir Januari, Business Insider Poll melakukan jajak pendapat dan menemukan bahwa satu dari empat orang Amerika Serikat percaya Presiden Trump harus diadili karena kejahatan perang oleh Pengadilan Kriminal Internasional atas pembunuhan Soleimani.

Sementara itu, sebanyak 55 persen orang Amerika mengatakan mereka percaya pembunuhan Soleimani membuat Amerika Serikat ‘kurang aman.’

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan