Berita

 Network

 Partner

Foto: AFP.
Foto: AFP.

AS Sakiti Prancis, NATO Akan Revisi Konsep Aliansi Strategis

Berita Baru, Washington — Negara-negara yang tergabung NATO berencana akan merevisi konsep aliansi mereka, dalam menanggapi sikap ‘menikam dari belakang’ Amerika Serikat (AS) terhadap Prancis.

Awal pekan ini, Paris dan Berlin mengatakan mereka telah sepakat untuk merevisi konsep strategis aliansi NATO.

Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly minggu ini mengatakan langkah untuk merevisi konsep NATO dimaksudkan untuk mengingatkan Washington bahwa alasan keberadaan aliansi tersebut adalah keamanan transatlantik.

Florence Parly juga menyebut menjadi sekutu tidak berarti “menjadi sandera untuk kepentingan negara lain”.

Pihak Paris dan Berlin juga mengatakan langkah itu sebagai tanggapan atas penghinaan terhadap Prancis ketika Australia memutuskan untuk secara sepihak mengakhiri kesepakatan kapal selam demi pakta pertahanan dengan Amerika Serikat dan Inggris.

Berita Terkait :  Sebut ‘Otak NATO Mati’, Emmanuel Macron Dikecam Trump

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian menggambarkan langkah AS itu seperti menikam Prancis dari belakang.

“Tidak ada yang akan berubah sampai anggota NATO menginternalisasi fakta bahwa, sejauh menyangkut Washington, mereka seperti tisu: untuk digunakan saat dibutuhkan dan dilupakan saat tidak”, kata mantan diplomat Kanada Patrick Armstrong kepada Sputnik.

Lebih lanjut, Armstrong menyebut keputusan untuk merevisi konsep aliansi itu sebagai “sebuah langkah” untuk mewujudkan peran bawahan mereka di Washington.

Sementara itu, beberapa pihak menyarankan lebih banyak dialog dengan Washington dapat mengubah situasi, meskipun beberapa pihak yang lain tetap skeptis.

Pada gilirannya, komentator politik AS, Profesor John Walsh, menunjukkan bahwa tidak pernah ada dialog politik yang nyata dalam aliansi NATO selama 72 tahun keberadaannya.

Berita Terkait :  Ternyata Latihan Fisik Lebih Efektif Ketimbang Meditasi untuk Kesehatan

“Tidak ada dialog sejak April 1949, ketika NATO didirikan,” kata Walsh kepada Sputnik.

“Tuan menggunakan ‘dialog’ hanya sebagai ‘riasan’ pada perintah untuk bawahannya, dalam hal ini Eropa yang diduduki AS,” imbuhnya.

AS sekarang terlihat sangat panik atas kemajuan China, tambah Walsh, sehingga ‘menghilangkan riasan’ itu.

“Atau, seperti yang dikatakan Victoria Nuland, ‘f**k the EU'”, kata Walsh.

Selain itu, Profesor Politik Emeritus Universitas Negeri California, Beau Grosscup mengatakan inisiatif itu memang mengkonfirmasi bahwa sekutu AS mulai menilai kembali peran lama mereka yang tunduk pada Washington.

“Jelas, kaum nasionalis Eropa, yang dipimpin oleh kerja sama Prancis-Jerman (suatu hal yang langka) sedang memikirkan kembali persetujuan pasca-Perang Dingin mereka terhadap tuntutan AS agar NATO yang didominasi AS tetap bertanggung jawab atas keamanan Eropa sebagai lawan aliansi Pan-Eropa yang absen AS sebagai anggota dan akhir dari NATO”, kata Grosscup kepada Sputnik.

Berita Terkait :  4 Orang Tewas Akibat Serangan Bom Mobil di Afrin Suriah

Pemerintah AS, tambahnya, baru-baru ini Trump, telah memaksa sekutu Eropa untuk membayar lebih untuk aliansi tanpa melepaskan peran yang menentukan dalam pembuatan kebijakan.

“Singkatnya, para pejabat Prancis-Jerman mengatakan, jika AS ingin NATO melanjutkan, waktunya telah tiba bagi orang Eropa untuk menjadi mitra setara dalam pembuatan kebijakan, tidak hanya dalam masalah keamanan Eropa tetapi juga mengenai keamanan AS dalam definisi baru dan benar dari ‘Aliansi Keamanan Transatlantik’ – sesuatu yang selalu dan dengan tegas ditolak oleh AS”, kata Grosscup.