Berita

 Network

 Partner

AS akan Memberikan Bantuan Kemanusiaan untuk Afghanistan
(Foto: Tatyana Makeyeva/Reuters)

AS akan Memberikan Bantuan Kemanusiaan untuk Afghanistan

Berita Baru, Internasional – Amerika Serikat akan memberikan bantuan kemanusiaan untuk Afghanistan yang kini berada di ambang bencana ekonomi dan kemiskinan. Meski begitu, AS tetap menolak untuk memberikan pengakuan politik kepada pemerintahan baru Afghanistan, kata Taliban pada hari Minggu (10/10).

Pernyataan tersebut muncul dalam sebuah momentum pembicaraan langsung antara Taliban dan AS di Doha, Qatar, yang sekaligus menjadi pertemuan pertama sejak penarikan pasukan AS dari Afghanistan pada akhir Agustus.

Pembicaraan itu berlangsung ketika AS dan Inggris memperingatkan warganya untuk menjauh dari hotel di ibu kota Kabul, khususnya hotel Serena. “Warga AS yang berada di atau dekat hotel Serena harus segera pergi,” kata Departemen Luar Negeri AS, mengutip ancaman keamanan di daerah tersebut.

Seperti dilansir dari The Guardian, Inggris mengimbau warganya untuk tidak melakukan perjalanan ke Afghanistan, Kantor Luar Negeri Inggris mengatakan: “Mengingat peningkatan adanya risiko, Anda disarankan untuk tidak menginap di hotel, terutama di Kabul (seperti Hotel Serena).” Serena adalah hotel mewah paling terkenal di Kabul dan populer di kalangan pengunjung asing sebelum kota itu jatuh ke tangan Taliban Agustus lalu.

Berita Terkait :  Pilpres Afghanistan Berdarah; Sebanyak 85 Orang Meninggal

Taliban mengatakan pembicaraan yang diadakan di Doha, Qatar, berjalan dengan baik dan Washington akan segera meluncurkan bantuan kemanusiaan ke Afghanistan tanpa ada kaitannya dengan pengakuan formal kepada Taliban.

Amerika Serikat memperjelas bahwa pembicaraan itu sama sekali bukan sebagai bentuk pengakuan terhadap Taliban yang mulai berkuasa pada 15 Agustus setelah pemerintah sekutu AS runtuh.

Juru bicara departemen luar negeri Ned Price menyebut pembicaraan antara kedua belah pihak berlangsung dengan transparan dan professional.

“Delegasi AS berfokus pada masalah keamanan dan terorisme dan perjalanan yang aman bagi warga AS, warga negara asing lainnya dan mitra Afghanistan, serta pada hak asasi manusia, termasuk partisipasi dari perempuan dan anak perempuan dalam semua aspek masyarakat Afghanistan,” kata Price.

Berita Terkait :  Angkatan Darat AS Berencana Pasang Laser Anti-Pesawat di Kendaraan Lapis Baja Stryker

Juru bicara politik Taliban, Suhail Shaheen, mengatakan bahwa menteri luar negeri sementara Afghanistan terus berupaya meyakinkan AS terkait komitmennya, bahwa tanah Afghanistan tidak akan digunakan oleh para ekstremis untuk melancarkan serangan terhadap negara lain.

Namun demikian, pada hari Sabtu (9/10) Taliban menolak bekerjasama dengan Washington untuk menahan kelompok Negara Islam yang melakukan serangan terbaru di Afghanistan. Sebuah bom bunuh diri kelompok IS telah menargetkan masjid Syiah dan menewaskan 46 minoritas Muslim Syiah di negara itu. Washington menganggap ISIS sebagai ancaman teroris terbesar yang berasal dari Afghanistan.

“Kami mampu mengatasi Daesh secara independen,” kata Shaheen ketika ditanya apakah Taliban akan bekerja sama dengan AS untuk menahan afiliasi ISIS.

Berita Terkait :  Soal OPEC +, Abdulaziz: Sekarang Kami Memiliki Keluarga Lebih Besar

Bill Roggio, seorang rekan senior di Foundation for Defense of Democracies yang melacak kelompok-kelompok militan, setuju bahwa Taliban tidak membutuhkan bantuan Washington untuk memburu dan menghancurkan afiliasi IS Afghanistan, yang dikenal sebagai Islamic State Khorasan Province, atau ISKP.

“Taliban telah berjuang selama 20 tahun untuk mengusir AS, dan hal terakhir yang dibutuhkan adalah kembalinya AS. Itu juga tidak membutuhkan bantuan AS,” kata Roggio, yang memproduksi Long War Journal dari yayasan tersebut. “Taliban harus melakukan tugas yang sulit dan memakan waktu untuk membasmi sel-sel ISKP dan infrastrukturnya yang terbatas. Ia memiliki semua pengetahuan dan alat yang dibutuhkan untuk melakukannya.”