Arwah Penari

Arwah Penari

Arwah Penari
(CerpenDaruz Armedian)

Lingsir wengi sliramu tumeking sirno

Tepat ketika aku sampai ruangan ini, suara itu muncul dari mulut Ningrum. Temanku. Suaranya melengking, seperti membelah malam. Dan aku yang masih dengan napas tersendat-sendat akibat tadi lari sebelum masuk ruangan ini, cepat-cepat merekamnya. Sebetulnya aku sibuk, tetapi ini adalah permohonan Ningrum agar aku menonton penampilannya malam ini. Tidak seperti biasanya ia sampai memohon-mohon seperti itu. Katanya, ini penampilan yang penting.

Dan, memang iya. Ini sangat penting. Sebab, suaranya yang melengking itu, membuat bulu kudukku merinding. Tidak ada suara lain kecuali suara Ningrum. Orang-orang seperti terkena sihir, diam dan kaku. Meresapi apa yang Ningrum lantunkan.

ojo tangi nggonmu guling
awas jo ngetoro
aku lagi bang wingo wingo

Ningrum memejamkan mata. Menghayati apa yang dilantunkannya. Rambutnya yang panjang itu, kulitnya yang kuning-kuning kemerahan itu (sebenarnya, kulit asli Ningrum putih, tetapi karena sinar lampu yang kuning-kuning kemerahan jadi warna kulitnya berubah), kain batik yang dipakai itu, membuatnya semakin sempurna.

Dengan perlahan, kini kedua tangan Ningrum menari. Pelan, namun terlihat anggun. Lalu diikuti dengan suara gamelan. Bau dupa yang dibakar, aromanya menguar ke seluruh isi ruangan.

jin setan kang tak utusi
ijin setan kang tak utusi
dadyo sebarang
wojo lelayu sebet

Ini memang yang dikehendaki Ningrum. Suatu hari ia pernah mengatakan padaku akan menampilkan sesuatu yang membuat takut penonton. Artinya, penonton tidak melulu terpana lalu tepuk tangan seusai ia tampil. Dan inilah yang terjadi sekarang. Aku, yang sehari-harinya bersamanya saja, takut bukan main. Apalagi orang lain?

Ningrum mengulangi tembang itu. Dan ketika tembang selesai dilantunkan untuk kedua kali, ia tak berhenti menari. Kemudian, mata yang terpejam itu kini terbelalak. Tajam menatap para penonton. Seperti seseorang yang marah dan bertahun-tahun menyimpan dendam. Aku pernah melihat mata tajam dan menakutkan seperti itu. Ya, itu mata Nyi Roro Kidul dalam sebuah film. Walaupun dalam film, itu tetap menakutkan.

Ningrum masih tetap menari. Aku gusar. Apa ini termasuk dari serangkaian penampilannya? Sebab, tarian itu lama sekali. Dan orang-orang tercekat. Mungkin menunggu kapan adegan itu selesai dan kemudian mereka bertepuk tangan. Sama sepertiku.

Tiba-tiba Ningrum berteriak sekencang mungkin. Itu yang membuatku kaget setengah mati. Tubuh Ningrum ambruk. Ia pingsan. Ruangan yang mulanya sunyi kini riuh. Orang-orang pada bertanya-tanya ia kenapa. Beberapa yang lain naik ke panggung, menolong Ningrum.

Itu adalah serangkaian hal-hal aneh yang terjadi setelah ia patah hati.

**

Di langit, mendung-mendung bergelayut pelan. Hitam. Kelam. Kemudian tak terlalu lama menurunkan gerimis. Gerimis yang tipis. Membasahi rerumputan di depan beranda kos-kosan.

Di kos Ningrum, pertengkaran dimulai. Aku yang tidak mengerti masalahnya apa, cuma diam dan mendengarkan dari kamar kosku sendiri, kos yang berdampingan dengan kos Ningrum. Pertengkaran itu dari dua orang. Laki-laki dan perempuan. Pertengkaran yang memecah ritmisnya hujan. Pertengkaran yang begitu memuakkan. Pertengkaran yang merusak konsentrasi seseorang yang sedang membaca buku, sepertiku.

            “Ini salah kamu! Kenapa kamu tidak menepati janji ke bandara?!” teriak seorang laki-laki. Sebenarnya tidak semata-mata teriak, tapi juga membentak. Aku tahu benar laki-laki itu. Ia sudah sering diceritakan Ningrum padaku. Ia pacarnya.

            “Ha? Salah aku? Sebagai cowok, harusnya kamu tahu! Harusnya kamu tuh nyadar kalau aku memang benar-benar nggak bisa datang waktu itu. Kan, sudah aku sms! Aku ada acara mendadak di kampus. Acara yang nggak bisa dibatalin begitu saja! Kamu itu selalu nyalahin aku! Kamu harusnya ngertiin aku juga.” bantah Ningrum.

            “Tidak! Aku tak percaya sama kamu. Bulshit! Kalau aku yang minta, kamu pasti punya alasan begini begitu, tidak pernah satu kali pun menghargai aku! Kamu harusnya hargai aku sedikit saja. Lihat! Kamu sudah aku belikan tiket. Semuanya berantakan gara-gara kamu tidak datang. Aku jadi tidak berangkat.”

            “Iya, iya, memang aku selalu salah di mata kamu. Selalu tidak berarti. Apa ini yang kamu namakan sebagai cinta? Ha? Cinta?! Aku heran deh akhir-akhir ini kamu selalu mencari celah agar aku terlihat salah. Kamu emang dari bulan lalu nyari cara agar kita putus, kan?” suara Ningrum meninggi.

            “Terserah apa katamu. Harusnya—“ suara si laki-laki terpotong.

            “Apa? Apa, ha?”

            “Munafik!“

Pembicaraan saling potong-memotong. Semakin panas. Semakin garang.

            “Kamu cowok nggak tau diri!”

            “Apa katamu?” kata si laki-laki.

            Plak!

Terdengar suara tamparan. Aku tergidik. Aku takut bila pertengkaran itu semakin menjadi-jadi. Tidak hanya adu mulut tapi adu fisik. Tentu Ningrum perempuan yang lemah akan kalah. Laki-laki tidak tahu diri, batinku.

Aku masih di sini. Di kamar kosku sendiri. Duduk bersandar dinding. Di luar sana, gerimis sudah berubah menjadi hujan. Meski tidak terlalu deras, cukup untuk membuat suara pertengkaran semakin agak kurang jelas. Buku yang sedari aku pegang, kini kuletakkan di meja kecil dekat laptop. Simakanku menjadi serius. Sebab setelah tamparan itu, kini terdengar ada tangisan. Selain itu sudah tidak ada lagi suara-suara yang lain.

Ningrum menangis sesenggukan. Agak lama tidak ada pembicaraan lagi.

Aku merutuk dalam hati. Agak lama tidak ada yang kubaca lagi.

Laptop kumatikan.

Aku kira semuanya sudah selesai. Sebab, ada diam di antara mereka berdua. Ternyata tebakanku salah. Masih ada perbincangan-perbincangan yang lain.

            “Cowok bajingan!” teriak Ningrum yang membuatku merinding. Entah akan ada apa lagi setelah perkataan itu. Aku hanya bisa berharap tidak ada yang lebih mengerikan daripada tadi. Aku tahu, Ningrum memang seperti itu kalau sedang emosi. Ia tidak segan-segan memaki siapa pun. Aku tidak kaget lagi omongan-omongan kasarnya. Sebab dari dulu memang seperti itu.

            “Beraninya sama perempuan!” lanjutnya.

            “Kita putus!” suara itu menggetarkan. Bahkan, tanpa kuduga, bulu kudukku merinding. “Tak usah lagi ngehubungin aku!”

            Aku terus menyimak dan menyimak. Kupincingkan telinga. Pada saat itulah…

            “Oke, kamu, kamu, jangan per—“

            “Jangan banyak omong!”

Terdengar suara gelas pecah. Seperti sengaja dibanting. Aku tak mau ikut campur dalam urusan yang serba kacau seperti ini. Nanti saja, setelah laki-laki itu pergi. Atau memang kalau keadaannya memang benar-benar tidak bisa dibiarkan. Semisal, laki-laki itu mau membunuh Ningrum, dengan cara apa pun. Sebab, aku sendiri takut. Aku jadi serba salah.

Setelah gelas pecah, kemudian kudengar gebrakan pintu ditutup. Kembali lagi suara tangisan itu ada. Kali ini lebih memilukan daripada yang tadi.

Tak berapa lama, dari balik pintu yang terbuka sedikit, aku lihat laki-laki itu pergi. Hujan belum terlalu reda. Masih ada tetes sedikit-sedikit menyerupai embun pagi. Ia, dengan langkah cepat, menuju sepeda motornya yang sedari tadi bertengger di parkiran kos. 

Seperginya laki-laki itu dari sini, dari lingkungan kos-kosan ini, masih kudengar sesenggukan dari dalam kamar kos Ningrum. Aku buru-buru menuju ke sana. Kuintip dari celah jendela, ia terduduk membisu. Pipiya masih basah oleh air mata.

            “Ning,” panggilku pelan. Pelan sekali.

Ningrum mendongakkan wajahnya. Mulutnya masih tetap membisu. Hanya saja matanya seperti bicara.

Aku membuka pintu. Kupandangi wajahnya dalam-dalam. Seperti ada luka yang begitu menyayat hatinya. Rambutnya acak-acakan seperti orang gila. Bukan. Bukan. Maksudku seperti orang yang belum mandi dan belum merias diri.

            “Rin,” ia angkat bicara. “Sekarang aku pengen sendirian dulu.” Lanjutnya pelan. Seperti panggilanku tadi.

Aku menyadari itu. Aku kembali membuka pintu. Sebelum melangkah ke luar, mulut Ningrum kembali berbicara. “Maaf, Rin.”

            “Ya, Ning. Aku juga mau nerusin ngerjain tugasku, kok.” Kataku tersenyum sambil berlalu. Masih kudengar lamat-lamat dari mulutnya sebuah kata maaf. Yang entah ke berapa kali.

 Itu adalah waktu ketika awal mula ia patah hati.

**

Setelah pertengkaran itu, pacarnya tidak pernah lagi datang ke sini. Bahkan, ketika kejadian aneh menimpa Ningrum (ia pingsan waktu di panggung, setelah melantunkan Lingsir Wengi), pacarnya, atau kalau tidak bisa dikatakan pacar, mantan pacarnya, tidak menjenguknya.

Ningrum kini menjadi manusia yang suka menyendiri. Bahkan, ketika ingin kudekati, kadang-kadang ia tidak mau lagi. Ia ingin menenangkan diri, katanya. Aku khawatir dengan apa yang dialaminya itu adalah hal yang sangat berbahaya bagi dirinya. Aku khawatir tiba-tiba ia bunuh diri karena putus asa menghadapi masalahnya sendiri.

Mengerikan sekali jika itu benar-benar terjadi.

Akhirnya, meskipun ia tidak mau, aku tetap bersikeras mendekatinya. Aku ingin menemaninya, mendengar ceritanya, merasakan masalahnya, menanggung bebannya. Sebagai teman, harusnya memang seperti itu.

Waktu itu, ketika hari belum benar-benar malam, aku masuk kos Ningrum tanpa permisi. Ia yang mula-mula tiduran di kasur, duduk seketika, seperti kaget melihat maling.

            “Maaf, Ning.” Kataku. Hambar. Ningrum sudah tidak bisa lagi diajak bercanda. Apakah patah hati telah merampas kebahagiaannya?

            “Apa?” ia malah bertanya yang itu membuatku gagal paham. Apa?

            Aku mendekatinya. Hendak duduk di sampingnya.

            “Apa? Ada apa?”

            “Tidak ada apa-apa, Ning. Aku mau menemanimu saja.”

            “Sudah kubilang berkali-kali. Aku pengen sendiri! Bodoh amat sih jadi cewek!”

Dadaku terasa ingin meledak. Bagaimanapun, aku tidak pernah mendengar ucapan seperti itu ditunjukan padaku. Ucapan dari siapa pun. Saat itu aku sadar, pipiku basah. Aku memang lemah.

Setelah agak lama, sekuat tenaga aku mengatakan hal ini;

            “Aku khawatir dengan keadaanmu, Ning. Kamu tidak bisa begini terus-terusan. Kamu butuh teman bercerita. Kamu—”

            “Diam!!!” seketika ia berdiri. Seketika juga bulu kudukku berdiri. Aku ciut. “Aku tidak butuh siapa-siapa. Munafik semua!”

            “Pergi sana! Pergi! Pergi, nggak?!” matanya melotot tajam (aku pernah melihat tatapan mata yang seperti itu, tatapan yang pernah ia tunjukan pada penonton sewaktu ia tampil beberapa hari yang lalu). Tangannya menunjuk ke arah pintu. Tangisku pecah.

            “Kamu kenapa, Ning?”

Ia tidak menjawab. Bahkan malah mendorong tubuhku ke arah pintu yang terbuka. Tubuhku yang lemah begitu mudah terdorong. Aku terpental. Dan dengan cepat ia menutup pintu itu.

Hal itu membuatku seperti orang gila. Meraung-raung, menangis sambil menggedor-gedor pintu kosnya. Sehingga banyak teman-teman kos yang lain mendekatiku.

Itu adalah waktu di mana lima hari setelah ia pingsan di atas panggung.

**

Mengerikan. Sungguh mengerikan.

Ketimbang malam-malam yang lain dalam hidupku, malam itulah yang paling mengerikan. Tepat ketika aku hendak tidur, terdengar suara perempuan melantunkan tembang Jawa yang tidak kumengerti artinya. Ya, aku tahu persis. Itu dari dalam kos Ningrum. Tetapi, ada apa malam-malam begini ia bertembang?

Aku tergopoh-gopoh menuju kos Ningrum. Dan seperti biasa, aku mengintip dari celah-celah jendela.

            “Ya Tuhan!” Pekikku.

Ningrum menari sendirian. Tariannya lebih indah dari biasanya. Begitu halus. Tetapi, hal itu malah buatku takut. Ada apa dengan Ningrum? Apa ia kesurupan. Ha? Jangan-jangan ia benar kesurupan.

            “Ning, Ning, Ning!” aku memberanikan diri untuk memanggilnya sambil menggedor-gedor pintu. Sesekali aku mengintip lagi dari celah-celah jendela. Ia masih tetap menari.

            “Ning, Ning, kamu kenapa?”

Tidak ada jawaban. Akhirnya aku berteriak minta tolong. Semua orang yang ada di area kos-kosan ini keluar.

            “Ada apa, Mbak?” teriak Sania, orang yang pertamakali nongol. Ia tergopoh-gopoh menghampiriku.

            “Ningrum, San. Ningrum.”

            “Ningrum kenapa?

            “Kesurupan.” Dengan cepat aku mengatakan itu. Aku yakin ini bukan ulah Ningrum. Ningrum pasti kesurupan.

Setelah Sania, yang lain pada berdatangan. Tempat ini jadi riuh. Bahkan, warga setempat juga ikut ke sini.

Akhirnya, karena tidak ada cara lain, seorang bapak-bapak (aku sering melihat bapak ini jualan es cincau di depan gerbang kampusku. Aku biasa memanggilnya ‘Kang’ karena tidak tahu nama aslinya) mendobrak pintu kos Ningrum. Tepat ketika pintu itu terbuka, Ningrum berhenti menari. Tetapi, tidak lama kemudian, ia marah-marah. Barang-barang yang ada di dekatnya, ia lemparkan ke arah kami. Mulai dari hape, gelas, charger, buku-buku, dan lain sebagainya.

            “Ningrum!” teriakku histeris. Aku menangis. Ya Tuhan, kenapa temanku bisa jadi seperti ini?

Sementara itu, orang-orang, terutama laki-laki, masuk ke kos Ningrum. Mereka hendak menangkap Ningrum. Tetapi, semua itu tidak semudah yang aku bayangkan. Sebab, Ningrum melakukan perlawanan. Ia mencakar-cakar siapa pun yang menyentuhnya. Bahkan ia tak segan-segan menggigit, persis anjing.

Ningrum baru bisa diringkus ketika setengah jam sudah lewat. Kini, tangannya diikat dengan tali. Begitu juga kakinya.

Itu adalah waktu di mana aku merasa diri Ningrum sudah hilang, berganti dengan diri yang lain.

**

Apa yang terjadi di masa lalu pasti ada kaitannya dengan masa yang akan datang. Setidaknya, itulah yang bisa kusimpulkan dari seorang dukun spesialis hal-hal gaib. Ia mengatakan, yang merasuki tubuh Ningrum adalah arwah penari di kota ini.

Si dukun itu bercerita seperti ini:

Dulu, sekitar 25 tahun yang lalu, ada seorang penari yang sangat bagus di kota ini, mati karena dibunuh. Ia memang tidak terlalu terkenal. Sebab, tidak ada satu pun media yang meliputnya. Media apa pun itu. Tetapi, jika kamu tanya penduduk di sini, terutama bagi kaum laki-laki yang sekarang sudah menjadi bapak-bapak, pasti mengenal penari itu. Orang-orang memanggilnya Uning. Uning Si Penari. Ia sering menari di tempat-tempat judi yang terpencil. Artinya, tempat-tempat judinya orang-orang miskin. Kadang-kadang ia juga menari dalam sebuah acara tertentu: semisal acara nikahan, khitanan, atau waktu upacara adat.

Penduduk sini sangat mencintai Uning, sebagaimana Uning mencintai penduduk sini. Jadi, ketika Uning menari, orang-orang akan ikut menari. Kadang-kadang sambil nyawer, atau memberi uang Uning ketika dalam keadaan menari.

Tetapi, pada suatu hari, di dalam semak-semak, Uning ditemukan sudah tidak bernyawa. Orang-orang langsung yakin bahwa Uning adalah korban pembunuhan. Dan mereka langsung menuduh, yang membunuh si penari itu adalah para anggota ormas garis keras. Sebab, hanya merekalah yang benci tarian Uning. Hanya merekalah yang memburu Uning. Hanya merekalah yang menganggap tarian Uning itu haram.

Sekarang, entah ada apa ini, kok dia muncul lagi. Padahal, kisah tentang Uning ini sudah hampir tidak ada yang mengingatnya. Uning sudah bahagia di akhirat sana.

Ningrum. Ya, ya, ya. Namanya Ningrum. Kok, hampir mirip dengan Uning, ya. Sekarang, Uning sudah pergi dari tubuh Ningrum. Tetapi, ia pasti kembali lagi jika pikiran Ningrum kosong. Maka dari itu, tolong, hibur dia. Jangan biarkan dia sendirian terus.

Itu adalah waktu di mana Ningrum sudah tidak kesurupan. Entah nanti kesurupan lagi atau tidak.

**

Beberapa hari setelah sembuh, Ningrum malah sering menghilang. Terutama menghilang dari pengawasanku. Aku belum memberi tahu kabar ini kepada orangtuanya. Sebab, seperti kata Ningrum, orangtuanya sudah uzur. Aku jadi tidak tega membayangkan bagaimana kabarnya jika tahu kalau anaknya tertimpa musibah yang seperti ini.

Maka, dengan seluruh kemampuanku, aku menghubungi seluruh teman-temanku. Aku meminta tolong kepada mereka agar jika bertemu dengan Ningrum, jangan abaikan dia. Sebab, Ningrum harus butuh keramaian. Ningrum butuh teman.

Hari ini, ketika sedang di kampus, aku melihat ada kerumunan di depan rektorat. Aku pikir itu adalah mahasiswa yang berdemo untuk menuntut penurunan UKT. Tetapi tidak. Dari kejauhan, begitu jelas terlihat ada perempuan yang menari.

            “Ningrum?!” pekikku. Ya Tuhan. Kenapa dia ada di sana?

Aku tergopoh-gopoh menuju ke sana. Entah sebab apa, pipiku basah. Tuhan, beginikah caramu memberi cobaan kepada Ningrum?

Ningrum masih tetap menari. Tangannya meliuk-liuk. Aku membayangkan betapa malunya ia kalau sadar melihat dirinya sendiri sedang melakukan hal seperti itu. Lihat! Banyak mahasiswa-mahasiswa yang menontonnya. Bahkan ada juga dosen.

Ketika aku berteriak agar semuanya menolong Ningrum, barulah mereka sadar, itu bukan kegilaan dari salah satu mahasiswi. Itu perempuan yang kesurupan.

Itu adalah waktu di mana Ningrum semakin sering kesurupan. Tidak pandang tempat dan tidak pandang waktu. Kadang-kadang ia menari di perpustakaan, di kantin, di kelas, di mana saja.

**

Karena persoalan mengenai Ningrum yang semakin rumit, kami (aku dan beberapa temanku) mengantarnya pulang ke kampung. Tidak ada pilihan lain.

Setelah itu, hari-hariku sudah bebas. Aku bisa membaca buku kapan saja, menulis dan mengerjakan tugas kampus kapan saja. Meskipun kadang-kadang kalau malam tiba aku membayangkan di kos Ningrum yang sekarang sudah kosong itu ada yang bertembang. Meskipun kadang-kadang aku merasa kesepian, karena ia adalah teman yang sering bersamaku.

Aku kira Ningrum akan kembali lagi ke sini setelah ia benar-benar sembuh. Ternyata, ibunya menelponku dan memberi kabar bahwa Ningrum akan pindah kuliah. Ia khawatir kalau anaknya kembali ke sini, akan kesurupan lagi. Sebab, salah satu dukun yang terkemuka di tempatnya, dukun yang bisa melihat hal-hal gaib, memberi tahu kalau anaknya mau tidak mau harus pindah dari sini.

Itu adalah waktu di mana aku merasa bahwa hidup ini kadang tidak adil.

**

Gara-gara kejadian yang menimpa Ningrum, aku jadi trauma kalau melihat kerumunan orang-orang. Aku membayangkan bahwa temanku itu berada di tengah-tengah mereka, sedang menontonnya menari. Menari bukan karena dirinya sendiri, tetapi digerakkan oleh makhluk halus.

Seperti malam ini. Malam ketika lebih dingin dari malam-malam yang lain dan aku sedang asyik menyanyi. Orang-orang berkerumun di depan kosku. Mereka menggedor-gedor pintu kosku. Memanggil-manggil namaku. Aku terganggu dengan teriakan-teriakan mereka. Aku takut mereka akan membunuhku.

Ketika pintu kosku terbuka karena dobrakan mereka, tanpa kusadari tanganku melemparkan segala yang dapat kuraih. Mereka seperti ingin mengeroyokku. Tolong, aku tidak salah apa-apa. Tolong aku. Aku ingin beringsut ke pojok ruangan untuk bersembunyi dari mereka. Tetapi, entah kenapa tubuhku tidak bekerja sama dengan pikiranku. Tanganku, kakiku, mataku, dan semuanya.

            “Tolong aku! Aku tidak salah apa-apa.”

Itu adalah waktu di mana aku melihat tanganku mencakar orang-orang yang menyentuhku. Aku juga ingin menggigit mereka. Padahal, pikiranku sendiri sedang ketakutan melihat mereka.[]

Jogja, 2017

Catatan: Cerita ini pernah termuat di buku “Ada Hantu di Hatimu”, Penerbit Araska, 2017.

Tinggalkan Balasan