Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Rempah

Anom Astika: Rempah Adalah Bagian dari Kehidupan Sehari-hari Masyarakat Indonesia



Berita Baru, Tokoh – Anom Astika Peneliti Institut Sejarah Sosial Indonesia menyebut bahwa pemahaman masyarakat Indonesia atas rempah masih terbatas pada cengkeh, lada, dan pala.

Bicara rempah padahal sebenarnya bicara tentang lebih dari 330 jenis tanaman di Indonesia yang bisa diolah menjadi masakan dan lainnya. Beberapa darinya mencakup belimbing wuluh, jeruk nipis, dan daun jeruk.

Hal ini Anom sampaikan dalam gelar wicara Bercerita Beritabaru.co ke-64 dengan tajuk Menelusuri Jejak Budaya Rempah Nusantara pada Selasa (14/9).

Menurut Anom, sosialiasi terkait makna rempah penting untuk digalakkan. Salah satunya adalah dengan mengemas narasi soal rempah secara lebih menyenangkan (fun) dan tidak hanya berhubungan dengan kolonialisme.

“Ya setidaknya seperti konsep cerita bawang putih dan bawang merah itu. Untuk pengenalan pada masyarakat, model cerita seperti itu bagus. Hanya saja, yang jelas kita tetap membutuhkan beberapa pembaruan,” ungkapnya.

Rempah sebagai jalur

Karena rempah berkelindan dengan masyarakat Indonesia entah dari segi keseharian maupun kesejarahan nusantara, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan, berencana mengajukan Jalur Rempah sebagai nominasi Warisan Budaya Dunia yang diakui oleh UNESCO.

Selain sesuai dengan World Heritage Convention (Konvensi Warisan Dunia) tahun 1972 tentang Protection of the World Cultural and Natural Heritage, menurut Anom Jalur Rempah penting juga diajukan karena dua (2) alasan lainnya.

Pertama, yang membentuk ke-Nusantara-an tidak lain adalah Jalur Rempah. Karena adanya jalur ini, Bahasa Indonesia memiliki kemiripan dengan bahasa negara lainnya seperti Madagaskar dan India.

Kedua, Anom melanjutkan, Jalur Rempah memiliki karakter dan distingsi dari Jalur Sutra di Tiongkok. Khas dari Jalur Rempah adalah persahabatan.

“Ini berbeda dengan Jalur Sutra di Cina yang terbentuk melalui relasi penaklukkan demi perluasan imperium Cina. Jadi, ketika Cina menjalin relasi penaklukkan dengan bangsa lain, maka Nusantara membentuk relasi persahabatan,” jelas Anom.

Selain dua (2) alasan tersebut, Anom juga menyitir bahwa saking pentingnya Jalur Rempah, dulu yang membentuk pemikiran kolonial tidak bukan adalah Jalur ini.

“Ya begitulah kenyataannya. Pemikiran kolonial dibangun di atas kesadaran bahwa untuk menguasai rempah, maka mereka harus mengetahui jalur pelayarannya dan lantas menguasainya terlebih dulu,” tegasnya dalam diskusi yang dipandu oleh Diah Bahtiar ini.

“Di atas semuanya, yang tidak bisa dilupakan adalah betapa Nusantara kala itu cukuplah berpengaruh bagi bangsa-bangsa lain di dunia. Persis dengan Cina, hanya saja relasi yang dibangun adalah persahabatan, sehingga kalah populer dengan Cina yang menggunakan relasi penaklukkan,” imbuhnya.

Sekilas tentang Jalur Rempah

Lebih jauh, Anom menjelaskan, pada dasarnya Jalur Rempah diusulkan untuk program koridor budaya dunia.

Jalur Rempah memiliki kawasan lebih dari 15.000 km membentang dari Taiwan, Filipina, Maluku, Kepulauan Indonesia, Madagaskar, dan yang paling baru mencakup Eropa Selatan via Laut Tengah.

Kawasan ini, kata Anom, ditarik dari data-data arkeologis dan historis. Salah satunya adalah ditemukannya artefak cengkeh di Suriah yang taksiran umurnya 1600 SM.

“Cengkeh ini ada dalam toples dan ditemukan di Mesopotamia atau hari ini Surah,” ungkap Anom.

“Bicara data artefak sebetulnya sudah ada banyak, tetapi narasi sejarahnya baru muncul pada kisaran abad ke-11 dan ke-14 M,” imbuhnya.

Tantangan terberat dalam menjadikan Jalur Rempah sebagai Warisan Budaya Dunia memang terletak pada data sejarahnya. Indonesia harus memiliki data yang kuat untuk bisa mengangkat rempah Indonesia sebagai Jalur Rempah Warisan Budaya Dunia.