Anak Seorang Penjahat | Cerpen Budi Hatees

-

Lahir  dan hidup sebagai anak dari seorang penjahat, meskipun kau tidak pernah mengenali ayahmu, cepat atau lambat akan membuat kau menjadi penjahat karena di tubuhmu mengalir darah yang terkontaminasi oleh hasil-hasil kejahatan. Usaha apapun yang kau lakukan untuk menjadi orang baik, tidak akan gampang terwujud, karena orang-orang menginginkan agar kau menjadi penjahat dengan terus-menerus menaruh curiga terhadap apapun yang kau kerjakan.

Semua hal yang aku lakukan dan kerjakan,  niat baik yang aku berikan, selalu mengundang kecurigaan, dan ditanggapi dengan sangat keliru.  Aku pernah memberikan satu karung beras kepada salah seorang warga kampung (tak perlu aku sebut namanya) karena orang itu tidak punya beras lagi untuk memberi makan anak-anaknya, dan aku mengetahuinya karena tanpa sengaja mendengar salah seorang anaknya menangis kelaparan, tapi orang itu menolak dengan alasan tidak mau menerima bantuan yang diperoleh dari hasil kejahatan.

“Bawa saja kembali beras ini! Kami lebih baik kelaparan,” katanya.

Mahluk mengerikan yang ada di dalam diriku (semua orang aku rasa memelihara mahluk mengerikan di dalam dirinya) seketika mengaum, mengeluarkan cakar-cakar tajam dan taringnya. Aku istigfar sambil menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, dan usaha itu berhasil menenangkan mahluk mengerikan itu. Aku tak bisa membayangkan apa jadinya jika mahluk mengerikan ini tidak bisa kukendalikan. Aku menatap orang itu, tersenyum, lalu mengambil karung beras. “Kalau Bapak tidak mau, tidak apa-apa,” kataku.

Rumah geribik yang nyaris rubuh itu aku tinggalkan. Karung beras kupanggul, berjalan perlahan menyusuri jalan kampung, dan aku menyadari beberapa orang memperhatikanku dari kejauhan. Aku sudah menduga, orang-orang yang hanya memperhatikan dan tidak berusaha menegurku itu akan  mengarang cerita buruk tentang karung beras yang kupanggul.

Sejam setelah aku tiba di rumah, dugaanku menjadi kenyataan ketika Marasangap, adik ibu dan aku memanggilnya tulang, datang menemuiku dan marah-marah,  menuduhku mencuri sekarung beras. Seperti biasa, dia terus bicara tanpa lebih dahulu meminta penjelasanku, dan pembicaraannya selalu mengungkit-ungkit masa lalu ayahku sebagai penjahat yang telah merusak nama baik keluarga besar Baginda Junjungan, ayah ibuku sekaligus ayah Marasangap, yang merupakan ahli waris  keluarga pembuka perkampungan atau Raja Panusunan Bulung.  Mendengar ucapannya, mahluk mengerikan dalam diriku langsung mengaum memperlihatkan taringnya yang tajam. Sekali lagi, aku istigfar sambil menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, dan usaha itu berhasil menenangkan mahluk mengerikan itu.

Berita Terkait :  Riwayat Mahakam Hulu | Puisi: Iman Budiman
Berita Terkait :  Suatu Pagi di Rumah Tante Revi | Cerpen: Iin Farliani

“Kembalikan apa yang telah kau curi!” kata Marasangap sambil celingukan mencari sekarung beras yang dia pikir hasil curianku, dan dia menemukan beras itu di lantai dekat pintu yang menghubungkan ruang tamu dengan dapur. “Aku saja yang memulangkannya.”

Aku mengangkat bahu, Marasangap pergi sambil memanggul beras itu. Aku tak tahu ke mana beras itu hendak dipulangkan Marasangap, tetapi kemudian menyebar kabar bahwa aku mencuri sekarung beras milik orang miskin di kampung kami sehingga orang itu kelaparan, tapi beruntung Marasangap datang dan mengembalikan beras yang dicuri itu kembali kepada pemiliknya.  Ternyata, pemilik beras yang dimaksud adalah orang yang menolak pemberianku, dan aku hanya tertawa geli mengetahui hal itu.

Soal beras itu bukan kejadian pertama, tapi sudah terlalu sering. Niat baikku selalu ditanggapi keliru oleh siapa saja. Jangankan orang lain yang ada hubungan darah dengan aku, bahkan, saudara-saudaraku dari pihak ibu maupun pihak ayah selalu menganggap bahwa aku seorang penjahat seperti halnya ayahku. Tapi, lantaran aku tidak seperti yang mereka tuduhkan, dan aku tidak merasa meladeni mereka sebagai sesuatu yang sangat penting, aku tidak memperdulikan apapun penilaian orang. Aku tetap hidup sebagai diriku sendiri, tidak pernah berpura-pura menjadi orang lain agar mendapat kepercayaan sekaligus pujian dari orang lain. Bagiku, penilaian orang lain bukan hal penting.

Sikapku yang masa bodoh atas citra buruk yang dibuat orang lain justru membuat orang-orang merasa bahwa mereka tidak keliru. Aku menangkap kesan, orang-orang menginginkan agar aku marah atas tuduhan mereka, tetapi aku tidak pernah marah. Aku biasa-biasa saja, dan tetap saja hidup seakan-akan tidak pernah ada penilaian buruk tentang diriku.

Berita Terkait :  Pertobatan Mak Lampir | Cerpen Yuditeha

Marasangap, satu-satunya ahli waris Raja Panusunan Bulung di kampung, adalah orang yang merasa paling bertanggung jawab untuk mengubahku menjadi orang baik agar citra baik keluarganya tidak luntur di mata masyarakatnya. Dia bicara kepada semua orang, bahwa dia yang bertanggung jawab mendidik aku agar menjadi anak yang baik setelah ayah dan ibuku meningal. Ayahku meninggal saat aku masih dalam kandungan ibuku.  Kabarnya, ayah ditembak polisi dalam sebuah kasus perampokan di kota. Ibuku sangat menderita atas kepergian ayah, dan sejak itu ibuku sering sakit-sakitan. Dua tahun usiaku, ibuku meninggal. Aku dirawat oleh nenek, empat tahun kemudian nenek meninggal. Marasangap kemudian mengasuhku, dan memutuskan mengirimkanku ke pondok pesantren. Aku hanya sanggup bertahan setahun, karena pondok pesantren selalu menghukumku sebagai pencuri atas barang apa saja yang hilang.

Berita Terkait :  Pohon Kelapa Tuan Imarafsah | Cerpen Risen Dhawuh Abdullah

Aku memutuskan kembali ke kampung, dan tinggal sendiri di rumah yang diwariskan ayah. Marasangap meragukan aku sanggup tinggal sendiri, tapi aku membuktikan kemampuanku. Cuma, masyarakat yang khawatir atas kehadiranku, takut aku akan menjadi benalu di kampung. Marasangap menjamin bahwa dia akan bertanggung jawab atas apapun yang aku lakukan. Tapi, Marasangap sering mengatakan kepadaku bahwa dia merasa telah gagal memenuhi janjinya karena aku tetap saja melakukan kejahatan.

Dia tidak mempercayai bahwa aku tak seperti yang diceritakan orang-orang. Dia malah menyimpulkan, bahwa di darahku mengalir darah seorang penjahat, dan itu tidak bisa diabaikan sekalipun aku melakukan transfusi darah untuk mengganti darah yang ada di tubuhku.

Aku tak menanggapi Marasangap dan memilih diam saja ketika dia datang hanya untuk menasehatiku. “Jangan seperti ayahmu, kau harus ikut menjaga nama baik keluarga Raja Panusunan Bulung,” katanya.

Berita Terkait :  Agama Monyet-Monyet di Planet Miletus | Cerpen Abul Muamar

Aku mengangguk sambil membayangkan nama baik keluarga Raja Panusunan Bulung, dan betapa sia-sianya membesar-besarkan hal-hal semacam itu, apalagi bila nama baik itu tidak bermanfaat terhadap orang lain. Begitulah aku menilai nama baik  Raja Panusunan Bulung yang dijaga Marasangap, yang menurutku hanya bermanfaat bagi Marasangap sekeluarga, karena ahli waris keluarga Raja Panusunan Bulung selalu mendapat perhatian khusus di kampung seakan-akan mereka warga kelas satu. Keluarga Marasangap pun selalu mendapat perhatian khusus, kepentingan keluarganya selalu berada di atas kepentingan keluarga lain, terutama soal menerima bantuan dari pemerintah.

Berita Terkait :  Ina Lefa*

Aku tak menyukai perlakuan khusus yang diterima keluarga Marasangap, terutama karena keluarga mereka masuk daftar penerima bantuan keluarga miskinm padahal masih banyak warga miskin yang lebih layak menerima. Marasangap mengaku sudah menolak agar keluarganya tidak mendapat bantuan, tetapi aparatur desa mengatakan bantuan itu sebagai bentuk penghargaan terhadap ahli waris Raja Panusunan Bulung.

Mestinya Marasangap tetap menolak, tetapi dia memilih mendiamkan dan menerima bantuan itu. Sementara itu, tidak sedikit warga kampung yang hidup menderita serta kelaparan, dan aku terus menerus membagi-bagikan apa yang kuwariskan dari almahum ayah dan ibu kepada keluarga-keluarga miskin. Dan, selalu, keluarga-keluarga miskin itu menolak dengan alasan tidak mau memakan yang haram. Setiap kali aku memberikan kebaikan, aku akan mendapat tuduhan telah mencuri, dan Marasangap akan datang sebagai Raja Panusunan Bulung untuk mengembali hasil curianku itu.

Begitulah aku menjalani hidup sebagai anak seorang penjahat.


Budi P. Hatees lahir di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara,  pada 3 Juni 1972. Menulis cerpen, puisi, esai, dan novel dan sebagian karyanya diterbitkan di berbagai media dan sejumlah buku.  Sehari-hari bekerja sebagai peneliti budaya, sosial, politik untuk Institute Sahata dan Tapanuli Database Center for Researd Culture and Social (Tapanuli Database).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU