Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid
Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid. (Foto: Istimewa)

Alissa Wahid Dapati Pola yang Sama Pada Insiden Wadas dan Kendeng

Berita Baru, Jakarta – Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid mengungkap bahwa terdapat pola yang sama pada insiden di Desa Wadas, Bener, Puworejo dengan peristiwa-peristiwa lain dibalik pembangunan proyek nasional yang terjadi di Indonesia.

Pernyataan itu disampaikan dalam diskusi virtual Pembangunan dan Perdamaian Meretas Petaka Wadas yang digelar Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP), Universitas Gadjah Mada (UGM), pada Senin (14/2) kemarin.

Putri Presiden Gus Dur itu turut melakukan advokasi pada kasus Warga Wadas penolak tambang quarry untuk bahan material pembangunan bendungan Bener, salah satu proyek strategis nasional (PTS) di Purworejo, Jawa Tengah.

Pada Sabtu, 12 Februari 2022, Alissa datang langsung menemui warga Warga yang pro dan kontra tedampak tambang quarry.

Setelah bertemu dengan warga dan melihat kembali beberapa advokasi yang dilakukan sebelumnya, Alissa mengaku menemukan pola yang sama, termasuk problem-problem yang mendasar. 

“Misalnya mulai dari Kendeng dulu, Sukolilo, lalu Rembang, kemudian beberapa konflik lain yang lebih kecil skalanya seperti di Kendal, dan berbagai tempat itu, sebetulnya kami melihat pola yang sama,” kata Alissa Wahid, sebagaimana dikutip dari tempo.co.

Menurut Alissa, dalam rapat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang melibatkan PWNU Jawa Tengah dan PCNU Purworejo, disebutkan informasi mengenai warga yang pro proyek tersebut cukup banyak.

“Dan ada pula ketegangan yang terjadi antara dua kelompok warga, baik yang pro maupun kontra,” ungkapnya.

Alissa mengatakan bahwa saat bertemu warga yang pro, ia menggali informasi termasuk sejauh mana mencerna situasi, dan mendapat tekanan sosial.

Dia mengaku bertemu dengan salah satu anak kecil yang selalu menangis karena diolok-olok temannya dari warga yang kontra, sehingga tidak ingin berangkat mengaji.

“Dan warga yang pro ini merasa dijadikan social outcast. Inilah sesuatu yang menurut saya sebagai psikolog adalah dinamika yang sangat lumrah antara warga yang berbeda pendapat,” katanya.

Namun, Alissa melanjutkan, yang cukup menyedihkan adalah hal itu terjadi justru setelah muncul inisiatif program pemerintah. Dia melihat kehadiran program pemerintah justru menghancurkan tatanan sosial di Desa Wadas.

Bertemu Ibu-ibu Pro Proyek Bendungan bener

Putri sulung Gus Dur itu menceritakan apa yang didapat saat menemui sekitar enam ibu-ibu yang pro proyek Bendungan Bener. Alissa bertanya bagaimana proses saat mengambil keputusan setuju dengan proyek tersebut.

Para warga, menurut Alissa, mengatakan bahwa mereka sempat dikumpulkan dan dikasih penjelasan terkait pembangunan bendungan, serta tanah akan digunakan pemerintah.

“Ini sangat dasar dan fundamental yang kita temukan di berbagai tempat. Mereka mengatakan begini, ‘ya kan kalau tanah, batu, dan air itu kan punyanya negara, jadi kalau negaranya minta ya harus diberikan’, Itu jawaban mereka,” tutur Alissa.

Kemudian, jawaban lainnya: “Kami kan rakyat kecil, kami enggak ngerti apa-apa,” ujar Alissa meniru para ibu-ibu warga Wadas.

Kemudian, Alissa menjelaskan bahwa jika para warga sudah memiliki sertifikat tanah, artinya itu bukan lagi milik negara.

Pernyataan Alissa itu kemudian disambut warga Wadas kembali, dengan jawaban yang sama: “Loh, itu kan batu, air, dan tanah itu punyanya negara, wong kita mau garap saja harus bayar kan ke negara setiap tahun, pajak,” kata Alisa kembali meniru jawaban warga.

“Jadi mereka memahami pajak itu sebagai membeli hak untuk mengolah tanah itu. Itu yang dipahami warga,” tutur Alissa.

Dia juga mempertanyakan ke warga, jika tanah sudah diambil, bagaimana dengan kehidupan keluarga mereka. Mereka menjawab, setelah pembangunan selesai, desa itu akan dijadikan desa wisata, dan mereka bisa bekerja.

“Nah ini pola-pola ini saya temukan juga waktu di Kendeng ketika warga masyarakat itu berangan-angan bahwa nanti akan diserap sebagai tenaga kerja di pabrik semen begitu,” ujar Alissa.

Alissa Wahid mengatakan pola-pola itu melahirkan terjadinya perusakan kehidupan sosial kemasyarakatan, dan para warga tersebut disebutnya tidak memahaminya.

“Itu hal yang saya temukan di lapangan,” tegasnya.