Alasan Ilmiah Dibalik Fenomena “Panic Buying”

    Panic Buying
    Pembelian panik masyarakat di masa pandemi, Sumber : Dailymail.co.uk

    Berita Baru, Inggris – Saat di masa-masa krisis, contohnya seperti masa pandemi COVID-19 saat ini, ada fenomena unik di mana masyarakat secara putus asa berbelanja kebutuhan hidup berlebihan. Fenomenan ini biasa disebut dengan “panic buying”.

    Dilansir dari Dailymail.co.uk, kegiatan mencari-cari dan memenuhi kebutuhan secara putus asa di tempat berbelanja ternyata berhubungan dengan bagaimana insting hewan dalam mengumpulkan makanan di saat masa-masa sulit.

    Para peneliti di Universitas Middlesex, Inggris telah membuat jurnal penelitian mengenai perbandingan antara manusia dengan hewan dalam rangka menjadi sosok “foragers” atau penjelajah makanan dan kebutuhan hidup.

    Hal tersebut dilakukan oleh manusia karena ketidakpastian akibat pandemi virus–yang menyebabkan masyarakat berbondong-bondong mengumpulkan stok makanan dan kebutuhan untuk mengantisipasi kelangkaan makanan.

    Hal alamiah seperti ini, peneliti mencontohkan, mirip dengan perilaku tupai yang mengumpulkan banyak biji-bijian. Contoh lainnya adalah hamster yang memenuhi mulutnya dengan biji-bijian dan kemudian menyembunyikannya ke dalam sarang.

    Rasa takut bersentuhan dengan manusia lain karena virus juga dicontohkan dengan perilaku hewan burung yang bereaksi saat dalam bahaya pemangsa.

    Berita Terkait :  Peneliti Ungkap Konsep Ampuh Menangkal Virus Menggunakan Masker

    Akibat insting ini, rak-rak supermarket yang kosong pun menjadi pemandangan yang lumrah di masa pandemi. Di mana bertahan hidup mendorong manusia mengantisipasi dengan tinggal lama di rumah–dan perilaku ini dapat berulang di gelombang-gelombang pandemi selanjutnya.

    “Peningkatan perilaku berbelanja masyarakat di awal pandemi sebagai respon alamiah dari ketidakpastian dan resiko berkurangnya cadangan panganan. Hal ini menjadi contoh perilaku yang sangat mirip yang dilakukan oleh hewan saat mengumpulkan makanan di masa-masa sulit,” ujar Profesor Tom Dickins, ahli ilmu perilaku dari Universitas Middlesex

    “Adanya ketidakpastian yang tinggi akan cadangan bahan pangan, sebagai kebutuhan utama hidup, dan kesadaran akan bahayanya di luar rumah untuk terpapar penyakit hingga kematian yang menghantui adalah alasan utama”

    “Jadi masyarakat tiba-tiba dipaksa untuk menyelam dalam ketidakpastian dan resiko. Hal ini merubah individu menjadi instan dari perilaku normal mereka sehari-hari menjadi sebuah perilaku baru yang mereka pelajari untuk bisa selamat dari situasi krisis tersebut,” Tambah Tom

    Banyak alasan seperti, masyarakat yang menyadari bahwa dari informasi yang mereka dapat rantai pasokan bahan pangan akan menipis, dan banyak pekerja maupun warga yang jatuh sakit, serta pembatasan perjalanan ke luar rumah karena fenomena “lockdown”

    Berita Terkait :  Presiden Jokowi: Lonjakan Kasus COVID-19 Perlu Diwaspadai

    Beberapa hal lebih jauh dapat dibandingkan seperti pada seekor burung passerine yang menjaga diri untuk tidak berhadapan dengan predator, seperti musang dan ular dengan cara menahan lapar. Mereka keluar mencari makan pada saat yang tepat seperti di pagi hari dan menghindari di siang hari dan malam hari.

    “Ini sebenarnya adalah perilaku yang sangat rasional dan masuk akal dan mungkin produk evolusi yang bertindak atas mekanisme keputusan dalam jangka waktu yang sangat lama” tambah Tom.

    - Advertisement -

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini

    nine − seven =