Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Aku Tidak Sakit

Aku Tidak Sakit, Ya Aku Tidak Sakit!

Aku Tidak Sakit, Ya Aku Tidak Sakit!
Oleh: Daruz Armedian

Cerpen, – Lusi, Lusi, membunuhmu mudah sekali. Tinggal kucekik lehermu, tidak sampai dua menit, kamu sudah mati. Tidak perlu kukeluarkan darah dari tubuhmu. Ya, ya, tidak perlu memakai senjata tajam untuk merobek perutmu. Lusi, Lusi, nanti mayatmu tidak perlu kukuburkan. Kubiarkan membusuk di bawah ranjang. Lalu aku pergi dari rumah ini dan tidak akan kembali. Aku ingin mencari lingkungan hidup yang baru, yang lebih berbahaya dari ini. Aku akan ke Jakarta, mungkin saja. Di sana barangkali tanganku lebih puas membunuh. Hehe. Lusi, Lusi, seandainya tidak semudah itu kamu kubunuh, pasti aku tidak akan pindah dari rumah ini. Artinya, setiap hari aku punya lawan bertengkar. Aku suka pertengkaran dan aku puas jika lawanku sepadan. Tapi, Lusi, Lusi, kamu lemah. Kamu cepat mati. Menjengkelkan memang hidup bersama orang yang lemah.

Lusi, Lusi, aku berangkat ke Jakarta sehari setelah kematianmu. Pintu rumah aku kunci. Tetangga sepi. Aku pergi dari rumah ini, Lusi, Lusi, semoga kamu tidak peduli. Tenanglah kamu tidur di bawah ranjangku. Apabila ada tetangga yang mencarimu, tolong kamu diam saja di sana. Nanti mereka menyeretmu ke kuburan. Nanti kamu ditimbuni tanah. Nanti kamu tidak bisa bernapas. Aku pamit dulu. Dadaa. Oh, iya, aku lupa. Jika nanti ada polisi mencarimu, kamu diam saja di sana ya. Tapi kalau telanjur ketahuan kamu sembunyi di bawah ranjang, ya kamu keluar saja tidak apa-apa. Hadapi polisinya dengan mata melotot. Polisi tidak baik diajak bicara baik-baik. Sama polisi harus marah-marah. Karena ya polisi begitu itu. Kalau ada yang tanya kenapa badanmu bau, jawab saja dengan ketus, belum mandi. Atau bolehlah kamu menjawab, badanku bau karena kamu dekati, hai polisi. Beres. Ya sudah, sudah dulu ya, dadaa.

Aduh, Lusi, aku di kereta saat ini. Menuju Jakarta ternyata tak semudah yang kubayangkan. Ini tentu bukan karena jalannya yang terjal, tapi kenangannya yang tetap tinggal. Maksudnya, aku ingat saat sama kamu di kereta. Kamu bilang aku harus ke psikiater. Astaga, Lusi, aku tidak sakit. Kamu bilang, orang sepertiku perlu berobat. Aku bilang lagi aku tidak sakit ya, aku baik-baik saja. Kalaupun sakit, apaku yang sakit? Aduh, aku mengulang-ulang hal itu terus pas di kereta menuju Jakarta.

Sebulan setelah kamu bilang aku sakit, aku baru sadar mengenai pikiranku. Aduh, apa benar aku sakit? Aku selalu punya niatan untuk membunuh orang. Aku selalu punya keinginan meluapkan dendam. Aku selalu punya kebencian yang berlebih terhadap orang yang pendapatnya tidak sesuai denganku. Aku pernah ingin membunuh bapakku dan menurutku itu wajar sekali. Astagfirullah. Sumpah ini di luar kemanusiaan. Ya Allah, kenapa manusia sebaik diriku punya niat sejahat itu. Lusi, bagaimana kabarmu sekarang di bawah ranjangku? Manusia memang sering menanyakan kabar orang lain ya. Heran. Jarang sekali menanyai kabar diri sendiri.

Satu jam lagi aku sampai Jakarta. Membosankan ya ternyata bepergian jauh. Tapi, tidak apa-apa, Lusi. Ini demi negaraku. Astaga, negara. Sejak kapan di kepalaku ada negara. Maksudku, kata ‘negara’. Ah, lupakan. Ini kalau dibahas bakal panjang. Lebih baik aku menyesali perbuatanku yang telah membunuhmu, Lusi, ah tapi tidak-tidak. Aku tidak akan menyesal. Kamu berbeda pendapat denganku. Kamu kubiayai kuliah di kota yang jauh, pulang-pulang ilmumu kamu gunakan untuk mendebatku. Aku tidak bodoh, ya. Negara ini sudah dikuasai PKI. Orang-orang Cina Komunis. Rusia si perusak dunia. Aduh. Liberal. Cocoknya memang khilafah kok. Iya, khilafah. Itu sistem paling kaffah. Kamu bilang khilafah tidak cocok di negara ini karena penduduknya beragam. Astaga, Lusi, setan apa yang sudah merasuki kepalamu? Bukannya kamu kuliah di UIN? Ya Tuhan, Ya Allah, UIN sekarang liberal begitu ya?

Heh, ini sebentar lagi sampai Jakarta. Aku ingat kamu, Lusi, lagi-lagi ingat kamu. Yang damai di bawah ranjangku ya. Di situ kamu pasti akan menyesal. Ya, tentu saja menyesali pendapatmu soal negara ini.

Lusi, di Jakarta ini aku bertemu banyak orang. Mereka bergerombol ingin menegakkan khilafah. Lihat ini, Lusi, lihat. Mereka begitu bahagia seperti aku. Kalau kamu bilang aku sakit, tentu saja mereka lebih sakit dari aku. Beberapa ada yang dari kota nun jauh, rela menjual tanahnya untuk mengikuti gerombolan ini. Rela meninggalkan sanak saudaranya, sapi-sapinya, kambing-kambingnya, ayam-ayamnya, dan lain sebagainya. Sumpah mati akan tetap mendukung gerombolan ini. Bahkan aku mendengar kabar ada yang rela bunuh diri dengan bom di ruang umum, ruang yang dianggap tidak maslahat. Demi apa, sumpah demi apa, aku tidak bohong. Mereka ada yang apa pun diberikannya untuk perjuangan gerombolan ini. Aduh Lusi, kamu salah jika memandangku sakit. Kamu salah besar. Jika gerombolan ini berhasil, kamu akan menyesal seumur hidup, ah maaf, kamu sudah mati. Begini, jika gerombolan ini berhasil menegakkan khilafah, tentu saja aku senang. Ya, tentu senang, karena aku orang sehat, berakal sehat!

[Nggunung, Jumat Pon, 00:01]

Daruz Armedian, penulis dari Tuban. Pernah bergiat di Komunitas Kutub, Garawiksa Institute, dan Kampus Fiksi. Buku cerpennya yang akan terbit; Bagaimana Kalau Kita Saling Membunuh Saja?