Agama Monyet-Monyet di Planet Miletus | Cerpen Abul Muamar

-

Desclaimer: Cerita ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk menyinggung SARA)

Menyempil di antara ribuan planet yang berserakan dalam galaksi antah berantah di satu titik semesta, ada satu planet bernama Miletus. Planet itu tidak besar, hanya seukuran sepertiga Pluto. Di sana terdapat kehidupan layaknya di Bumi; ada oksigen, ada air, ada cahaya dan api, ada tumbuhan, dan hewan-hewan. Di antara beragam hewan yang ada, terdapat satu spesies yang menyerupai manusia. Belum diketahui nama spesies hewan tersebut, namun merekalah yang paling berakal di planet tersebut. Demi kepentingan cerita ini, kita sebut saja mereka ‘monyet’.

Meskipun paling berakal, makhluk yang kita sederhanakan dengan sebutan ‘monyet’ ini tidak serta merta menguasai Miletus, dalam arti membunuhi makhluk-makhluk lain selain daripada spesies mereka. Mereka hidup berdampingan dengan hewan-hewan lain. Sesekali mereka memang membunuh hewan lain yang bagi mereka enak dimakan setelah dipanaskan dengan api, namun itu jarang sekali sebab pada dasarnya mereka hanya memakan tumbuh-tumbuhan dalam jumlah secukupnya.

Umur kehidupan di Planet Miletus belum diketahui, namun sampai saat manusia di Bumi telah menciptakan realitas-realitas tambahan dan tak bisa lagi membuat api tanpa korek, monyet di planet tersebut masih hidup dengan bercocok tanam dan tidak pernah hidup menetap. Mereka segera pindah begitu hasil tanam mereka habis. Tidak ada satupun dari mereka yang memiliki kandang seperti halnya manusia di Bumi. Mereka tidur di mana saja mereka bisa tidur sepanjang mereka dapat menatap langit dan melihat taburan bintang. Mereka makan sebelum perut mereka benar-benar lapar dan berhenti sebelum mereka benar-benar kenyang. Mereka kawin manakala alam memerintahkan mereka kawin. Satu monyet jantan dengan satu monyet betina. Tak seperti manusia di Bumi, di Miletus tidak ada satu monyet pun yang memiliki pasangan lebih dari satu.

Tentu saja mereka tidak akan disebut paling berakal jika hanya tahu makan, tidur, dan kawin. Mereka juga bisa menjalin komunikasi satu sama lain dengan bahasa mereka, hidup bersosialisasi dengan bermacam-macam kegiatan. Mereka mengenal huruf dan angka, membuat dan menyepakati tanda-tanda dan simbol-simbol, mendengar dan menyampaikan dongeng secara turun-temurun. Mereka mempelajari pola dan siklus alam, tahu kapan hujan akan turun atau panas akan menyengat atau kapan badai akan datang. Mereka memilah dan memilih tumbuhan yang bisa dimakan atau yang bisa digunakan untuk obat.

Semua kenikmatan yang mereka dapatkan dan bencana-bencana yang sesekali menimpa mereka, memberitahu mereka bahwa ada yang menciptakan itu semua, yang wujudnya tak dapat mereka tangkap. Mereka meyakini bahwa Planet Miletus yang mereka huni dan ruang tak terbatas di atasnya beserta seluruh isinya, berada di bawah kuasa kekuatan yang tak terjangkau. Karena itu, tiap-tiap mereka melakukan ritual-ritual, mengucapkan terima kasih dan memohon dijauhkan dari bencana, sama seperti yang dilakukan manusia di Bumi pada umumnya.

Bedanya dari manusia di Bumi, tidak ada satu pun monyet di Miletus yang mengekspresikan rasa syukur dan ketakutannya terhadap Kekuatan Tak Tampak dengan cara yang seragam, apalagi sampai menghimpun umat, menyusun konsepnya, dan melembagakannya. Masing-masing mereka memilliki ritual individual yang berbeda satu sama lain. Ada yang beribadah dengan cara menungging lalu berjongkok, ada yang beribadah dengan mengangkat sebelah tangan sementara tangan yang satunya lagi meremas pantat, ada yang dengan cara mencongkeli tahi gigi sisa makanan, ada yang menggaruk-garuk kepala, ada yang kilik-kilik kuping, ada yang menciumi tanah sebanyak seratus kali, ada yang duduk bersila dengan posisi telapak tangan menopang dagu hingga pipi, dan banyak lagi. Mereka juga menyebut Kekuatan Tak Tampak itu dengan sebutan masing-masing. Ada yang menyebut dengan Fa, ada yang menyebut Fu, ada yang menyebut Lo, ada yang menyebut Baby, ada yang menyebut Sweetie, dan macam-macam lainnya. Pendek kata, tidak ada satu pun monyet di Miletus yang laku ritualnya sama dengan monyet yang lain. Satu-satunya kesamaan di antara mereka hanyalah mereka memejamkan mata saat menjalankan ritual. Frekuensi ritualnya pun bermacam-macam. Ada yang tujuh kali dalam satu putaran planet, ada yang sepuluh kali, dan ada pula yang satu kali. Meski demikian, mereka hidup rukun tanpa saling merasa ritualnya yang paling benar.

Sampai pada suatu masa, terjadi kehebohan yang disebabkan oleh pengakuan semonyet monyet yang mengaku utusan Kekuatan Tak Tampak. Ia menyebut dirinya Nabi Upil. Ritual peribadatannya adalah dengan mengupil. Nabi Upil mengklaim bahwa mengupillah satu-satunya laku peribadatan yang benar.

“Saya melihat umat planet ini sudah sangat kacau dan jahil; menjalankan ritual sesuka hati. Karena itu, saya ingin memaklumatkan bahwa mulai sekarang, tinggalkan cara-cara kalian itu! Mulai sekarang, mengupillah untuk menyembah-Nya! Mengupillah dengan khusyuk!” demikian kata Nabi Upil setelah mengumandangkan kesaksiannya akan Kekuatan Tak Tampak.

Sebagai makhluk yang terbiasa dengan dongeng, mula-mula monyet-monyet di Miletus langsung menolak gagasan Nabi Upil. Merasa pernah mendengarnya, perlahan ingatan mereka melayang ke kisah tentang manusia-manusia di Bumi yang memiliki agama yang terorganisir, yang didongengkan oleh orang-orang tua mereka semasa kecil. Mereka diceritakan secara turun temurun bahwa di sebuah galaksi lain di luar galaksi mereka, ada planet bernama Bumi di mana manusia, spesies paling berakal, sering berperang akibat perbedaan cara menyembah Kekuatan Tak Tampak.

“Kok sudah seperti nabi di Bumi saja dia, ya?” komentar semonyet monyet menanggapi pengumuman yang disampaikan Nabi Upil.

“Jangan percaya dia! Dia pengacau!”

Bagaimanapun, dari jutaan monyet skeptis yang ada di Miletus, tetap saja ada yang percaya dan tertarik dengan ajaran Nabi Upil. Mereka pun meninggalkan cara-cara lama mereka dalam beribadah dan beralih ke ritual mengorek upil. Pada mulanya alasan mereka praktis saja, yakni ketika melakukan ritual mengupil, dengan kondisi mata terpejam, mereka merasakan kenikmatan yang belum pernah mereka rasakan dalam ritual sebelumnya. Mereka merasa lebih tenang ketika mengupil dan karenanya mereka merasa Sang Kekuatan Tak Tampak hadir dalam jangkauan mereka. Ekstase yang terus mereka rasakan membuat mereka lama-kelamaan menjadi fanatik. Mereka mengkafir-kafirkan monyet-monyet lain yang tidak menjalankan ritual seperti mereka. Mereka kemudian menyusun konsep dan ajaran-ajaran keyakinan mereka dan menyebarluaskannya. Berbondong-bondong monyet yang tadinya tidak percaya, menjadi ikut menganut ajaran mereka setelah mencoba merasakan sensasi kenikmatan ritual mengupil.

Pada mulanya ajaran yang mereka sebarkan baik-baik saja karena memang berisi perintah-perintah yang baik dan larangan-larangan yang memang patut untuk dipatuhi, semisal perintah untuk mengasihi sesama makhluk dan larangan menyakiti makhluk lain. Namun, ketika jumlah pengikut mereka semakin bertambah, muncul penafsiran bermacam-macam yang menyebabkan kekacauan yang tak jarang berujung pertumpahan darah. Monyet-monyet yang telah tenang dan mapan dengan laku peribadatan yang selama ini mereka jalankan, merasa terancam dengan keberadaan penganut ajaran Nabi Upil yang terus bertambah, apalagi ajakan-ajakan itu sering disertai paksaan. Sebaliknya, para penyeru ajaran Nabi Upil berang dengan sifat keras kepala para monyet yang tetap bersikukuh dengan ritual individualnya.

Kekacauan di Planet Miletus semakin menjadi-jadi ketika jumlah penganut ajaran Nabi Upil telah mencapai ribuan. Ada nabi baru muncul, namanya Nabi Garuk Silit. Nabi yang juga mengaku sebagai utusan Kekuatan Tak Tampak ini mengajarkan bahwa ritual penyembahan yang benar adalah dengan menggaruk silit.

“Kalian ada-ada saja. Bagaimana mungkin kalian bisa menjangkau Sang Kekuatan Tak Tampak dengan cara mengupil? Tak masuk akal! Itu kurang ajar namanya,” seru Nabi Garuk Silit kepada umat Nabi Upil. Ia sendiri tak menyadari betapa model ritual yang ia ajarkan pun sama tak masuk akalnya dan tak kurang kadar kekurangajarannya.

Bagaimanapun, dalam waktu singkat berduyun-duyun umat Nabi Upil pindah ke ajaran Nabi Garuk Silit. Bahkan banyak juga monyet yang tadinya menjalankan ritual individual, juga mengikuti ajaran nabi baru ini. Alasannya juga sama dengan masa terdahulu: mereka merasakan sensasi kenikmatan yang tak pernah mereka rasakan sebelumnya dalam cara peribadatan yang lama.

Garuk silit ini sebetulnya bukan ritual baru. Dahulu kala, ada satu monyet yang pernah mempraktikkannya. Namun, sebagaimana monyet-monyet yang lain, ritual itu dilakukan monyet itu sendiri. Ia tak pernah mengajak, apalagi mendoktrin, monyet lain untuk mengikuti caranya. Dan memang benar, Nabi Garuk Silit tidak menampik fakta itu, dan sebaliknya ia mengaku dirinya merupakan titisan monyet itu.

Tak lama sejak ajaran Nabi Garuk Silit menyebar, jumlah pengikutnya telah melampaui jumlah penganut ajaran Nabi Upil. Dua ajaran keyakinan ini segera menjadi agama mayoritas di Planet Miletus. Penganutnya berperang tak berkesudahan. Monyet-monyet lain yang masih menjalankan ritual individual semakin lama semakin terdesak. Mereka dipaksa pindah ke salah satu agama besar tersebut. Banyak di antara mereka yang dibunuh karena menolak.

***

Berita Terkait :  Puisi-Puisi Dadang Ari Murtono: Pulang ke Pacet
Berita Terkait :  Gong Li, Kehidupan Pertama dan Kedua | Cerpen: Eko Triono

Kekacauan akhirnya mereda saat Nabi Upil mati. Bukannya mengambil kesempatan untuk memaksa umat lawan pindah agama, umat Nabi Garuk Silit justru tersadar akan kebodohan mereka karena telah mengikuti satu ajaran massal. Tak lama setelah itu, Nabi Garuk Silit menyusul mati, dibunuh oleh umatnya sendiri. Umat Nabi Upil menangis saat peristiwa itu terjadi. Seperti halnya umat Nabi Garuk Silit, mereka juga tersadar akan kekonyolan mereka selama ini, mengikuti ajaran monyet yang mengaku nabi.

Sepeninggalan dua nabi besar itu, monyet-monyet di Planet Miletus tidak pernah lagi memercayai suatu agama yang terorganisir. Satu per satu mereka kembali melakoni ritual individual hingga hanya tersisa satu monyet yang mengupil dan satu monyet yang mengorek silit. Yang tersisa ini bukan karena mereka masih setia pada ajaran bekas nabi mereka, melainkan karena laku ritual seperti itu memberikan ketenangan paling hakiki kepada mereka. Apalagi sejak mereka lahir, gerakan ritual itulah yang pertama kali mereka praktikkan. Mereka telah mencoba gerakan-gerakan lain namun tak menemukan ketenangan spiritual melebihi yang mereka dapatkan ketika mengupil dan mengorek silit.

Begitulah agama-agama umat monyet di Planet Miletus. Pada dasarnya mereka tak pernah sekalipun menganggapnya sebagai agama. Mereka hanya meyakini bahwa ada Kekuatan Tak Tampak yang menggerakkan mereka, yang menguasai segala-galanya, dan karena itu mereka merasa perlu melakukan ritual untuk berinteraksi dengan-Nya, bersyukur dan memohon pada-Nya. Satu monyet menjalankan satu model ritual, dengan level kekhusyukan tingkat makrifat.

Kedamaian di Planet Miletus terus terjaga berkat tiadanya satu model keyakinan yang menghimpun umat dan terlembagakan. Tanpa adanya laku peribadatan yang dilembagakan, mereka hidup jauh dari ketakutan, kerakusan, dan kegilaan. Mereka hanya percaya bahwa kebaikan akan menghampiri mereka apabila mereka berbuat baik; dan sebaliknya.

Namun mereka tetap senantiasa cemas, karena menurut dongeng yang dituturkan orang-orang tua mereka, pada suatu masa nanti, umat manusia dari Bumi akan datang ke planet mereka. Mula-mula manusia-manusia itu akan memaksa mereka memeluk satu agama besar. Setelah itu, mereka akan menjarah semua sumber daya alam yang ada di Miletus. Monyet-monyet Miletus yang tak mau menurut akan dimusnahkan secara massal.


Abul Muamar, lahir di Perbaungan, 6 November 1988. Alumnus Pascasarjana Filsafat Universitas Gadjah Mada. Menulis buku kumpulan cerpen berjudul ‘Pacar Baru Angelina Jolie (Gorga, 2019).

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments