Berita

 Network

 Partner

Abdurrahman Wahid Center UI Gelar Pameran Seni Rupa Virtual
Foto: dok. AWCPH UI

Abdurrahman Wahid Center UI Gelar Pameran Seni Rupa Virtual

Berita Baru, Jakarta — Abdurrahman Wahid Center for Peace and Humanities Universitas Indonesia (AWCPH UI) menyelenggarakan pameran seni rupa virtual. Pameran seni yang berjudul Virtue (Kebajikan) ini dalam rangka memperingati sewindu (8tahun) hari lahirnya AWCPH UI.

Selain untuk perayaan ulang tahun, pameran tersebut sekaligus juga sebagai respons terhadap pandemi Covid-19 yang tengah mengubah kehidupan manusia secara fundamental.

Pameran dibuka langsung istri Gus Dur, Hj. Sinta Nuriyah Wahid. Dalam sambutannya Ibu Sinta menyampaikan bahwa seni dapat mengasah kepekaan hati, meningkatkan kualitas kemanusiaan dan kreativitas kita yang amat dibutuhkan di tengah krisis akibat wabah atau pandemi.

Duduk sebagai kurator adalah peneliti di AWCPH UI, yaitu Faisal Kamandobat dan Nabilla F Fiandhini sebagai co-kurator. Menurut Faisal tema Virtue merupakan konsep penting dalam pemikiran etika, sejak zaman klasik hingga era kontemporer sekarang ini.

Berita Terkait :  Berkunjung ke Jawa Timur, Presiden Akan ke Lamongan dan Surabaya

“Di tengah situsi krisis akibat wabah, Virtue berkaitan dengan kemampuan seseorang, terutama para pemangku kebijakan, dalam mengambil sikap dan tindakan yang dianggap tepat sebagai bentuk tanggung jawab sosial,” kata Faisal Kamandobat, Kamis (23/7).

Lebih lanjut, Fiasal mengatakan bahwa tema Virtue memiliki kedekatan dengan semangat dan pemikiran Gus Dur yang kerap mengambil risiko demi memperjuangkan etika dan moralitas yang diyakini kebenarannya, baik dalam bidang spiritual-keagamaan, politik-ekonomi, maupun seni-budaya.

“Tujuannya adalah untuk mencipta tatanan kehidupan yang lebih baik dan manusiawi dengan terbitnya demokrasi dan keadilan, terutama pada masa pasca Orde Baru,” ungkapnya.

Dalam pameran ini, para seniman mengetengahkan Virtues (dalam arti plural, bukan tunggal), sesuai latar belakang sosio-kultural masing-masing, sehingga memberi dimensi kosmopolitan dari tema ini.

Berita Terkait :  Gusdurian Tuban Gelar Haul Satu Dekade Gus Dur

Secara umum, para seniman berusaha mentransformasikan kearifan lokal masing-masing ke dalam format seni masa kini, baik modern maupun kontemporer, sehingga terasa aktual dan relevan dengan perkembangan zaman.

Pihak kurator mengemas pameran ini dengan menggabungkan instalasi arsitektural dan animasi karikatural yang menggambarkan kebajikan dalam bentuk gambaran besar dunia (makrokosmos) di masa depan.

Adapun para pemirsa akan menemukan nuansa humor, keharuan, sains dan teknologi, juga spiritualitas dari berbagai tradisi keagamaan dengan format visual yang segar.

Format pameran dilakukan oleh kurator sebagai cara mendekatkan seni rupa dengan masyarakat luas. Selain itu, juga untuk memberi kebahagiaan dan kegembiraan di tengah masa sulit akibat wabah Covid-19.

Berita Terkait :  Mendikbud Geser Anggaran 3,2 T untuk Sekolah Terpapar COVID-19

Pameran virtual yang berlangsung sejak 18 Juli 2020 dan telah ditonton lebih 1000 orang tersebut melibatkan lebih dari 40 seniman dari berbagai generasi, kota dan dan negara seperti India, Jepang dan Australia.

Beberapa di antaranya merupakan seniman terkemuka, antara lain Heri Dono, Nasirun, Tommy F Awuy, Jumaldi Alfi, Jumaadi, Erica Hestu Wahyuni, Putu Sutawijaya, dan banyak lagi lainya.

Masing-masing seniman memiliki karakteristik tersendiri, sehingga pameran ini menawarkan keragaman secara visual dan konseptual. Bagi masyarakat yang ingin menikmati pameran dapat menjumpai pada tautan: bit.ly/VIRTUEAWCPHUI.