7 Tips Bagi Guru Agar Siswa Tidak Jenuh Jalani PJJ

Tangkapan layar Webinar yang diselenggarakan oleh Wahid Foundation bekerjasama dengan Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII)

Berita Baru, Jakarta – Pada sesi Webinar yang diselenggarakan oleh Wahid Foundation bekerjasama dengan Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII), Konsultan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Setiyo Iswoyo mengatakan, tantangan terbesar yang sedang dihadapi dalam sistem pembelajaran saat ini adalah minimnya kreativitas. Menurut Setiyo, banyak yang jenuh dalam proses PJJ ini, baik itu siswa maupun para guru bisa terjebak dalam situasi kejenuhan. Oleh sebab itu kreativitas dibutuhkan pada saat proses PJJ diselenggarakan. 

Setiyo menjelaskan, ada tujuh prinsip online learning yang saat ini menjadi pilihan ketika proses PJJ. Pertama, kata Pak Is, high-touch is more important then high-tech, bahwa sentuhan hati anak-anak, sentuhan emosional anak-anak lebih penting daripada kecanggihan teknologi. 

“Karena apa? Teknologi itu hanya alat saja, energi kita tidak boleh dihabiskan untuk mengejar teknologi secanggih mungkin tetapi kita melupakan hal yang paling esensial yaitu menyentuh hati dan emosi peserta didik,” ujar Pak Is dalam dihadapan 500 peserta Webinar.

Kedua, keterlibatan aktif peserta didik. Maka para guru harus mencari cara agar anak-anak dapat bertindak secara aktif. Ketiga, memenuhi kebutuhan psikososial peserta didik. Keempat, apapun teknologi yang digunakan mohon dipertimbangkan dengan matang dan kuasai aplikasi yang mudah digunakan.

Berita Terkait :  Yenny Wahid Raih Penghargaan Excellence Award di Singapura

Kelima, pastikan para guru efektif dalam menyampaikan pesan baik itu beragam metode yang akan dibahas, manajemen kelas yang baik, maupun personal feedback. “Sekali-kali Bapak/Ibu harus memberikan personal feedback kepada peserta didik, karena apa? Kehadiran Bapak/Ibu sekalian menjadi oase bagi anak-anak saat ini, terang Pak Is. 

Keenam, bagi para guru hadirkan kelas yang menyenangkan, menyelinginya dengan permainan yang menghilangkan kejenuhan.”Selingi permainan pada setiap materi, dan apa yang anda sajikan di sana bisa jadi tidak terduga oleh peserta didik, sehingga ketidak hadiran Bapak/Ibu tidak diharapkan oleh peserta didik,” jelas Pak Is.

Ketujuh, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim mengajak para guru agar mengambil materi yang paling esensial dan kontekstual konten. “Kontennya itu kontekstual dengan hari ini,” ujar Setiyo.

Setiyo menyebut dua hal yang menjadi kontekstual pada saat ini adalah Pertama, Covid-19. Menurutnya materi-materi yang para guru kaitkan dengan kontekstual terkait dengan Covid-19 boleh sedikit membahas terkait bagaimana cara pencegahannya, tetapi dorong anak didik untuk terus mencari solusi dan menjadi pribadi yang optimis.

Berita Terkait :  Pemprov DKI Jakarta Rencana Pasang Masker di Patung Jenderal Sudirman

Kedua, pentingnya pendidikan budaya sekolah damai. Saat ini budaya sekolah damai sangat penting digaungkan karena ada hal kontekstual yang bisa melatarbelakangi yaitu asesmen nasional. “Ada tiga aspek yang diuji dalam asesmen nasional; Pertama, Asesmen Kompetensi Minimum(AKM). Kedua, survei karakter yang akan mendorong anak-anak kita memiliki profil pelajar Pancasila. Ketiga, survei lingkungan karakter. Yang kesemuanya bertumpu pada pentingnya Budaya Sekolah Damai,” jelas Pak Is.

Perlu diketahui, diskusi yang berlangsung selama dua jam penuh ini dipandu oleh Wakil Bendahara Dewan Pengurus Pusat (DPP) AGPAII Yayuk serta dua narasumber yaitu Konsultan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Setiyo Iswoyo, dan Ketua DPP AGPAII Mahnan Marbawi dan diikuti oleh 500 peserta webinar yang berasal dari anggota AGPAII seluruh Indonesia dan beberapa dari kalangan umum.

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

three × 4 =