Berita

 Network

 Partner

Film Tanda Tanya
Poster Film Tanda Tanya

5 Isu Ini Jadi Topik Utama di Film ‘?’ (Tanda Tanya)

Berita Baru, Film – Film ‘?’ (Tanda Tanya) karya sutradara Hanung Bramantyo baru saja rilis di Netflix. Pernah dianggap kontroversial, film ini sesungguhnya mengangkat isu nyata yang banyak terjadi di tanah air ke dalam layar lebar.

Bahkan, Banser NU sendiri merasa tersudutkan dengan isi film itu yang turut mengangkat organisasi mereka dan melakukan pencekalan atas film ‘Tanda Tanya.; Hal itu membuat Yenny Wahid selaku Direktur Eksekutif Wahid Institute bersama Hanung Bramantyo, GP Ansor, dan aktor Agus Kuncoro turun tangan mengadakan jumpa pers untuk merespon pencekalan tersebut.  

Isu-isu yang diangkat dalam film ini terbilang sensitif, namun tentu saja penting untuk dibicarakan. Apa saja isu yang menjadi topik utama dalam film ‘Tanda Tanya’?

Intoleransi dan Ekstrimisme   

Kelindan konflik terjadi di banyak adegan dalam film ‘Tanda Tanya.’ Intoleransi, khususnya, ditampilkan dalam wujud isu sehari-hari yang dihadapi masyarakat. Dimulai dari hal kecil, misalnya saling ejek yang terjadi antara Hendra dengan sekelompok pemuda Muslim di sekitar rumahnya. Saat bertemu, Hendra dan pemuda itu terlibat dalam adu ejek. Pemuda Muslim memanggilnya, “Cino!” sementara Hendra membalasnya dengan, “Teroris. Asu!”

Saling ejek itu tak bisa dihindari. Hendra, sebagai keturunan Tionghoa, merasa tidak dihomati. Itu terinternalisasi pada diri Hendra dan menjadikannya sangat sensitif. Itulah kenapa ketika mengurus restoran ayahnya, Hendra menolak menghormati umat Muslim yang sedang berpuasa dan melepas semua tirai di depan restoran.

Berita Terkait :  Bulan Pride Month, Yuk Tonton Lagi 5 Film LGBT Indonesia

Selain itu, ‘Tanda Tanya’ juga menampilkan adegan ekstrimisme yang terjadi pada awal film, yakni ketika seorang pendeta mengalami penusukan di depan gereja dan terjadi pemboman pada malam Natal di sebuah gereja yang mana merupakan gambaran dari intoleransi dan ekstrimisme yang terjadi di sekitar kita secara nyata. Dari kasus itu, kita kembali mendiskusikan bagaimana tindakan ekstrim dalam beragama hanya akan menjadi problem baru bagi masyarakat.

Pindah Agama

Isu lain yang ditampilkan adalah mengenai pilihan untuk pindah agama. Dalam film ini, kepindahan seseorang dari satu agama ke agama lain cenderung dianggap sebagai perilaku yang mengkhianati Tuhan. Apalagi, tokoh yang pindah agama tersebut, Rika, juga bercerai dari suaminya. Rika menjadi bahan gosip dan di-bully oleh tetangganya.

Bahkan anaknya pun mulai menilai ibunya berubah. Yang dulu berjilbab dan mengaji, kini tidak lagi. Perlu waktu bagi Abi, anaknya, untuk membiasakan diri dengan kebaruan dalam diri ibunya, seperti merayakan Natal dan Paskah.

Namun, meski hidup sebagai umat berbeda agama, Rika tetap bersikap sebagaimana ibu yang menyayangi anaknya. Ia menemani Abi sahur dan berpuasa, serta merayakan Idul Fitri bersama.

Berita Terkait :  Bikin Ngiler, Selena Gomez Luncurkan Menu Es Krim Baru di Restorannya

Berdamai dalam Toleransi

Dalam beberapa adegan, Surya harus masuk ke gereja dan ambil peran dalam drama Penyaliban Yesus atau Paskah, serta drama Natal. Awalnya, Surya menolak. Ia memang mempertimbangkan kebutuhan finansial yang kian mencekik dan statusnya sebagai aktor yang selama 10 tahun hanya dapat peran cadangan. Sekalinya dapat peran utama, doi malah kebagian peran sebagai Yesus yang disalib.

Meski begitu menggiurkan bagi keuntungan finansial dan perkembangan karirnya, namun Surya ragu. Ia berkonsultasi terlebih dahulu kepada Ustad Wahyu. Apakah ia boleh masuk gereja? Dan memerankan tokoh Yesus?

Keterlibatannya di dalam drama juga menjadi riak bagi umat Katolik sendiri. Doni, salah seorang umat gereja, merasa terganggu dengan hadirnya seorang Muslim sebagai pemeran Yesus. Namun dalam ketegangan itu, Romo datang dan mengingatkan bahwa kehnacuran iman tidak terjadi hanya diakibatkan oleh drama Natal, melainkan karena kebodohan manusia.

Cinta Beda Agama

Satu ini nggak bisa dihindari ketika kita hidup dalam masyarakat dengan beragam identitas. Di dunia nyata pun, ada banyak pasangan dengan berbeda keyakinan yang menjalin hubungan hingga jenjang pernikahan.

Hal itu pula yang dipotret dalam film ‘Tanda Tanya’ melalui karakter Rika dan Surya serta Menuk dan Hendra. Setelah bercerai dari suaminya dan pindah agama menjadi Katolik, Rika mulai dekat dengan Surya, seorang Muslim yang perhatian padanya.

Berita Terkait :  Perpres No 7 tahun 2021 Disahkan, AMAN Indonesia dan WGWC akan Gelar Syukuran

Begitu juga dengan Menuk. Sebelum menikah dengan Soleh, ia pernah menjalin hubungan dengan Hendra, yang adalah anak dari bosnya di restoran. Mereka saling mencintai, namun Menuk memilih Soleh yang seiman dengannya.

Problem Finansial dalam Rumah Tangga

Dari awal cerita, kita tahu Soleh tidak bekerja, sementara istrinya, Menuk, bekerja sebagai pegawai restoran. Hal itu membuat Soleh mengalami inferioritas. Ia sangat ingin dianggap ‘wong lanang’ atau laki-laki yang dihormati dan berharga bagi keluarganya. Hingga di akhir film, Soleh menekankan bahwa ia cuma ingin menjadi berarti bagi Menuk.

Terlepas dari itu, hal yang menarik untuk disimak juga adalah bagaimana maslaah finansial keluarga berpengaruh pada keharmonisan rumah tangga, bahkan berdampak pada kenyamanan aktivitas ranjang.

Ketika Soleh pusing mencari kerja dan merasa tak mampu menjadi suami dan kakak yang baik, ia meminta Menuk menceraikannya. Setelah ia mampu mendapatkan pekerjaan sebagai Banser NU, ia mulai lunak dan mnejadi lebih romantis dengan Menuk.  

Dari semua isu di atas, mana yang pernah kamu alami?