Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Orang-orang tiba di pusat akomodasi sementara setelah melarikan diri dari invasi Rusia ke Ukraina, di Korczowa, Polandia, 3 Maret. Foto: Yara Nardi/Reuters.
Orang-orang tiba di pusat akomodasi sementara setelah melarikan diri dari invasi Rusia ke Ukraina, di Korczowa, Polandia, 3 Maret. Foto: Yara Nardi/Reuters.

2,8 Juta Jiwa Melarikan Diri dari Ukraina, Krisis Pengungsi di Depan Mata

Berita Baru, Kiev – Krisis pengungsi di depan pintu Eropa semakin nyata, hampir 3 juta jiwa melarikan diri dari Ukraina ke arah timur setelah Rusia menyerang pangkalan Ukraina di dekat perbatasan dengan anggota NATO Polandia.

Dalam serangan terbaru yang dilakukan Rusia tersebut, Ukraina mengatakan 35 orang tewas di pangkalan itu pada Minggu (13/3). Sementara Rusia mengatakan hingga 180 “tentara bayaran asing” tewas dan sejumlah besar senjata asing dihancurkan. Ukraina juga melaporkan serangan udara baru di bandara di barat negara itu.

Data terbaru dari PBB pada Senin (14/3) menyebutkan bahwa Jumlah pengungsi yang melarikan diri dari Ukraina sejak Rusia menginvasi pada 24 Februari naik menjadi lebih dari 2,8 juta.

PBB mengatakan itu meruapakan krisis pengungsi dengan pertumbuhan tercepat di Eropa sejak Perang Dunia Kedua.

Pejabat Uni Eropa mengatakan 5 juta mungkin akhirnya melarikan diri sementara yang lain menempatkan angka lebih tinggi.

Jutaan orang juga telah mengungsi di dalam Ukraina, dengan banyak yang dievakuasi hanya sejauh wilayah barat yang lebih tenang, termasuk ke kota-kota seperti Lviv.

Salah seorang warga Ukraina yang tinggal di wilayah Ternopil, di barat Ukraina, Myroslava (52 tahun) mengatakan kepada Reuters sedang menunggu di terminal stasiun Krakow di Polandia untuk dijemput oleh kenalannya. Dia tidak tahu di mana dia akan tinggal.

“Kami pergi karena serangan kemarin,” katanya, seraya menambahkan bahwa dia berharap Ukraina barat akan aman. “Kami tidak berencana untuk pergi, tetapi karena jaraknya sangat dekat, kami memutuskan untuk pergi.”

Perdana Menteri Polandia Mateusz Morawiecki mengatakan pada konferensi pers dengan rekan-rekannya dari Ukraina dan Lithuania bahwa serangan di dekat perbatasannya menunjukkan Rusia ingin “menciptakan kepanikan di antara penduduk sipil”.

Seorang warga Ukraina lainnya, Mira dari Kyiv mengatakan akan meninggalkan Ukraina menuju Warsawa karena terkejut dengan serangan Rusia di dekat Lviv. “Saya hanya panik dan merasa takut,” katanya.

Pertempuran berlanjut di banyak kota utama Ukraina, termasuk ibu kota Kiev. Ukraina mengatakan akan mencoba mengevakuasi warga sipil melalui 10 koridor kemanusiaan pada Senin (14/3) waktu setempat.

Rusia membantah menargetkan warga sipil, menggambarkan tindakannya sebagai “operasi khusus” untuk demiliterisasi dan “de-Nazify” Ukraina. Ukraina dan sekutu Barat menyebut ini sebagai dalih tak berdasar untuk invasi Rusia ke negara demokratis berpenduduk 44 juta jiwa itu.

“Rumah-rumah diledakkan,” kata Alena Kasinyska, seorang pengungsi dari kota Mykolaiv, di selatan Ukraina, setelah menyeberang ke Rumania di Isaccea, perbatasan yang sibuk di delta Danube. “Orang-orang tidak punya tempat tinggal, kami takut.”

Ukraina mengatakan telah memulai pembicaraan “keras” mengenai gencatan senjata, penarikan segera pasukan dan jaminan keamanan dengan Rusia pada Senin (14/3).